Rabu, 22 Oktober 2014

ANALISIS INSTRUMEN TES DAN NON TES

bp2munnes

ANALISIS INSTRUMEN TES DAN NON TES
Disusun untuk Memenuhi Tugas Ujian Akhir Semester 2
Mata Kuliah Asesmen Pendidikan Dasar
Dosen Pengampu : Dr. Sri Haryani, M.Si. & Dr. Endang S, M.Si.


Oleh:

AMILLA FIDYAH ASTUTI
0103512094




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DASAR S2
KONSENTRASI PGSD REGULER
FAKULTAS PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2013
ANALISIS INSTRUMEN TES SOAL PILIHAN GANDA
I.       SEBELUM UJI COBA
Menggunakan analisis secara kualitatif, Analisis kualitatif atau yang dikenal dengan telaah mutu soal yang dilakukan sebelum soal diujikan kepada peserta tes. Analisis dilakukan dengan berpedoman pada kaidah penulisan soal yang dilihat dari segi materi, konstruksi, dan bahasa. Berikut ini adalah kaidah penulisan soal pilihan ganda:
a.    Materi
1.    Soal harus sesuai dengan indikator.
2.    Pilihan jawaban harus homogeny dan logis ditinjau dari segi materi.
3.    Setiap soal harus mempunyai satu jawaban benar atau yang paling benar.
b.    Konstruksi
1.    Pokok soal harus dirumuskan secara jelas dan tegas.
2.    Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban harus merupakan pernyataan yang diperlukan saja.
3.    Pokok soal jangan member petunjuk ke arah jawaban benar.
4.    Pokok soal jangan mengandung pernyataan yang bersifat negatif ganda.
5.    Panjang rumusan pilihan jawaban harus relatif sama.
6.    Pilihan jawaaban jangan mengandung pernyataan,”Semua pilihan jawaban di atas salah”, atau “Semua pilihan jawaban di atas benar”.
7.    Pilihan jawaban yang berbentuk angka atau waktu harus disusun berdasarkan urutan besar kecilnya nilai angka tersebut, atau kronologisnya.
8.    Gambar, grafik, table, diagram, dan sejenisnya yang terdapat pada soal harus jelas dan berfungsi.
9.    Butir soal jang bergantung pada jawaban soal sebelumnya.
c.    Bahasa
1.    Setiap soal harus menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.
2.    Jangan menggunakan bahasa yang berlaku setempat, jika soal akan digunakan untuk daerah lain atau nasional.
3.    Setiap soal harus menggunakan bahasa yang komunikatif.
4.    Pilihan jawaban jangan mengulang kata atau frase yang bukan merupakansatu kesatuan pengertian.

II.       SETELAH UJI COBA
Menggunakan analisis Kuantitatif, analisis dilakukan untuk mengetahui penyebaran pilihan jawaban yaitu melihat berfungsi tidaknya pengecoh (pilihan jawaban selain kunci). Dari hasil analisis kuantitatif akan diperoleh soal baik, soal perlu diperbaiki, dan soal jelek. Analisis kuantitatif meliputi:
a.  Validitas
Istilah validitas pada dasarnya menunjukkan pada tingkat ketepatan dalam mengungkapkan data yang semsetinya diungkapkan. Tes belajar yang valid akan mengungkapkan aspek-aspek hasil belajar secara tepat. Dengan kata lain tes tersebut menguji apa yang semestinya dites. Rumus yang digunakan untuk menguji validitas suatu instrumen tes pilihan ganda adalah dengan menggunakan korelasi momen produk (Product moment) seperti berikut:

Keterangan:
rXY   = koefisien korelasi
∑X    = jumlah skor butir
∑Y    = jumlah skor total
N       = jumlah sampel
Nilai r kemudian dikonsultasikan dengan rtabel (rkritis). Bila rhitung dari rumus di atas lebih besar dari rtabel maka butir tersebut valid, dan sebaliknya.
b.  Reliabilitas.
Menurut Thorndike dan Hagen (1977), reliabilitas berhubungan dengan akurasi instrumen dalam mengukur apa yang diukur, kecermatan hasil ukur dan seberapa akurat seandainya dilakukan pengukuran ulang. Hopkins dan Antes (1979:5) menyatakan reliabilitas sebagai konsistensi pengamatan yang diperoleh dari pencatatan berulang baik pada satu subjek maupun sejumlah subjek. Secara empirik, tinggi rendahnya reliabilitas ditunjukkan oleh suatu angka yang disebut koefisien reliabilitas. Soal (perangkat soal) yang valid pasti reliabel, tetapi soal yang reliabel belum tentu valid. Oleh karena itu soal yang valid secara teoritis, juga sudah reliabel (andal) secara teoritis.
Reliabilitas empiris soal juga dihitung dengan teknik statistik, yaitu dengan cara korelasi. Angka korelasi yang diperoleh dengan cara ini disebut koefisien reliabilitas atau angka reliabilitas (r11 atau rtt) soal. Soal yang baik adalah soal yang mempunyai koefisien reliabilitas lebih dari sama dengan   0,70. Untuk menghitung koefisien reliabilitas instrumen tes pilihan ganda ini dapat menggunakan beberapa metode, antara lain:

1)     Cara belah dua
Pada cara ini, soal diujicobakan kepada peserta didik dan hasilnya dibelah menjadi dua, yaitu belahan gasal dan belahan genap. Dalam hal ini jumlah butir soal harus genap. Kedua skor hasil belahan dikorelasikan dengan rumus product moment, hasilnya adalah relasi belahan r ½ ½ . Setelah ditemukan korelasi belahan, dihitung angka reliabilitas soal dengan rumus Spearman-Brown. Rumus Spearman-Brown adalah sebagai berikut :

Keterangan :
r ½ ½     = kolerasi antara skor-skor setiap belahan tes
r11         = koefisien reliabilitas yang sudah disesuaikan

2)     Cara Kuder Richardson 20 atau Kuder Richardson 21
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg7o0zzsBIdQhS6zvBNzaKaYjAZ5SkYhlXgSuBaW52CfHB3WPJ2oEUwWi1N3LUWRZYDZlDO1IpMaSjKhmIWzGDHpyHJYAOGNyfiYSpVB30Ywj2atGXOEt91uzkb_fUMaF3gtjvAjNswJbmk/s1600/Presentation1.jpgRumus lain yang lebih banyak digunakan untuk menghitung koefisien konsistensi internal adalah rumus Kuder Richardson 20 (KR20) dan rumus Kuder Richardson 21 (KR21). Kedua cara ini menghasilkan angka yang lebih tepat. Rumus KR20 adalah :


keterangan :
SB2t    = simpangan baku dari skor total
r11       = reliabilitas soal
k           = jumlah butir soal



https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEijvADAfExPXOOXSxT2yLDzER4Xqi8p_Lr9YNxsQpTHA99ZsGG9LlglKo3SEc9XojC3vCKOV61ip2FM1GCSYW8630Nex4C9WzeMWr5X_5qjOXI7wywdIE6frrliNt1lNP-GJULcmqeT1kmr/s1600/Presentation1.jpgRumus KR21 adalah :
keterangan :
SBt       = simpangan baku dari skor total
r11       = reliabilitas soal
k           = jumlah butir soal
X          = rerata skor total



c.  Daya Pembeda
Daya pembeda item adalah kemampuan suatu butir item tes hasil belajar untuk dapat membedakan (mendiskriminasi) antara testee yang berkemampuan tinggi (pandai) dengan testee yang berkemampuan rendah (tidak pandai), atau analisis yang mengungkapkan seberapa besar butir tes dapat membedakan antara siswa kelompok tinggi dengan siswa kelompok rendah. Salah satu ciri butir yang baik adalah yang mampu membedakan antara kelompok atas (yang mampu) dan kelompok bawah (kurang mampu).
Indeks diskriminasi yang merupakan nilai daya pembeda dicari dengan rumus berikut:
DP =                   atau           DP =  -
Keterangan:
DP = daya pembeda soal,
KA = jumlah jawaban benar pada kelompok atas,
KB = jumlah jawaban benar pada kelompok bawah,
N  =jumlah siswa yang mengerjakan tes.

Hasil perhitungan dengan menggunakan rumus di atas dapat menggambarkan tingkat kemampuan soal dalam membedakan antar peserta didik yang sudah memahami materi yang diujikan dengan peserta didik yang belum/tidak memahami materi yang diujikan. Kriteria yang berlaku di Pusat Penilaian Pendidikan adalah sebagai berikut,
Kriteria Daya Pembeda
Keputusan
DP > 0,25
Diterima
0 < DP ≤ 0,25
Diperbaiki
DP ≤ 0
Ditolak

d.  Tingkat Kesukaran
Tingkat kesukaran soal adalah peluang untuk menjawab benar suatu soal pada tingkat kemampuan tertentu yang biasanya dinyatakan dalam bentuk indeks. Indeks tingkat kesukaran ini pada umumnya dinyatakan dalam bentuk proporsi yang besarnya berkisar 0,00 - 1,00 (Aiken (1994: 66). Semakin besar indeks tingkat kesukaran yang diperoleh dari hasil hitungan, berarti semakin mudah soal itu.

Rumus untuk mencari tingkat kesukaran adalah seperti berikut ini (Nitko, 1996: 310).
TK =
Keterangan:
TK   = Tingkat kesukaran untuk tiap butir soal
JB = Banyaknya siswa yang menjawab benar setiap butir soal
N = Banyaknya yang memberikan jawaban pada soal yang di maksudkan.
Semakin kecil nilai TK diperoleh makin sulit soal tersebut., sebaliknya makin besar TK  yang diperoleh makin mudah soal tersebut. Menurut kriteria yang sering di ikuti indeks kesukaran sering di klasifikasikan sebagai berikut :
·      Soal dengan  TK  0 – 0,30 adalah soal kategori sukar.
·      Soal dengan TK 0,31 – 0,70  adalah soal kategori sedang.
·      Soal dengan  TK 0,71 – 1,00  adalah soal kategori mudah.














ANALISIS INSTRUMEN NON TES  PEDOMAN OBSERVASI (PENGAMATAN) DAN ANGKET
I.       SEBELUM UJI COBA
Untuk mengaetahui apakah instrumen yang dibuat untuk merupakan alat ukur yang baik, maka sebelum instrumen diuji cobakan perlu dianalisis terlebih dahulu secara kualitatif. Seperti yang telah dibahas sebelumnya pada instrumen tes bahwa  analisis kulalitatif dilakukan dengan berpedoman pada kaidah penulisan soal yang dilihat dari segi materi, konstruksi, dan bahasa. Sama halnya dengan analisis kualitatif pada instrumen tes, analisis kualitatif pada instrumen nontes juga meliputi 3 poin tersebut. Berikut adalah penjelasannya:
a.  Materi
1.     Pernyataan atau pertanyaan sesuai dengan rumusan indikator dalam kisi-kisi
2.     Aspek yang diukur pada setiap pernyataan sudah sesuai dengan tuntutan dalam kisi-kisi (misal untuk tes sikap: aspek kognisi, afeksi, atau konasinya dan pernyataan positif atau negatifnya.
b.  Kostruksi
1.     Skala penilaian sudah tepat
2.     Petunjuk pengisian sudah jelas
3.     Format instrument menarik untuk dibaca
4.     Pernyataan atau pertanyaan dirumuskan dengan singkat (tidak melebihi 20 kata) dan jelas
5.     Kalimatnya bebas dari pernyataan atau pertanyaan yang tidak relevan objek yang dipersoalkan atau kalimatnya merupakan kalimat yang perlu saja
6.     Kalimatnya bebas dari kalimat yang negatif ganda
7.     Kalimatnya bebas dari pernyataan yang mengacu pada masala lalu
8.     Kalimatnya bebas dari pernyataan faktual atau dapat diinterpretasikan sebagai fakta
9.     Kalimatnya bebas dari pernyataan yang dapat diinterpretasikan lebih dan kalimatnya bebas dari pernyataan atau pertanyaan yang mungkin disetujui atau dikosongkan oleh hampir semua responden
10.  Setiap pernyataan atau pertanyaan hanya berisi satu gagasan secara lengkap
11.  Kalimatnya bebas dari pernyataan atau pertanyaan yang tidak pasti seperti: semua, selalu, kadang-kadang, tidak satupun, tidak pernah
12.  Tidak banyak menggunakan kata hanya, sekedar, semata-mata
c.   Bahasa/Budaya
1.     Rumusan kalimat pernyataan atau pertanyaan komunikatif
2.     Soal menggunakan Bahasa Indonesia yang baku
3.     Tidak menggunakan bahasa yang bersifat setempat/tabu.
Selain dengan cara analisis kualitatif, juga dapat dilakukan validator ahli. Sebelum digunakan terlebih dahulu divalidasi oleh para pakar untuk menguji layak atau tidak layaknya instrumeninstrumen tersebut digunakan untuk mengukur aspek-aspek yang ditetapkan ditinjau dari kejelasan tujuan pengukuran yang dirumuskan, kesesuaian butirbutir pertanyaan untuk setiap aspek, penggunaan bahasa, dan kejelasan petunjuk penggunaan instrumen.

II.       SESUDAH UJI COBA
a.  Uji Validitas
Uji validitas yang digunakan dalam instrumen nontes biasaynya adalah validitas konstruk (Construct Validity). Cara melakukan validitas konstruk yaitu dapat digunakan pendapat dari ahli (judgment experts). Instrumen dikonstruksi tentang aspek-aspek yang akan diukur dengan berlandaskan teori tertentu, selanjutnya dikonsultasikan dengan ahli.Menurut Jack R. Fraenkel (dalam Siregar 2010:163) validitas konstruk merupakan yang terluas cakupannya dibanding dengan validitas lainnya, karena melibatkan banyak prosedur termasuk validitas isi dan validitas kriteria. Selain dengan validitas konstruk, untuk menguji validitas pada instrumen non-tes juga dapat digunakan rumus korelasi Product Moment sebagai berikut.
Keterangan :
r xy        =  koefisien korelasi product moment
∑X         =  jumlah skor dalam sebaran X
∑X2       =  jumlah skor yang dikuadratkan dalam sebaran X
∑Y         =  jumlah skor dalam sebaran Y
∑Y2       =  jumlah skor yang dikuadratkan dalam sebaran Y
∑XY      =  jumlah hasil kali skor X dan Y yang berpasangan
N            =  jumlah sampel
Nilai r kemudian dikonsultasikan dengan rtabel (rkritis). Bila rhitung dari rumus di atas lebih besar dari rtabel maka butir tersebut valid, dan sebaliknya.

b.  Uji Reliabilitas
Instrumen reliabilitas berarti instrumen yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur obyek yang sama, akan menghasilkan data yang sama. Pengujian reliabilitas instrumen dapat dilakukan secara eksternal maupun internal.
1)  Secara eksternal, pengujian dapat dilakukan dengan tes-retest (stability), equivalent, dan gabungan keduanya.
2)  Secara internal, pengujian dapat dilakukan dengan menganalisis konsistensi butir-butir yang ada pada instrumen dengan teknik tertentu.
Untuk instrumen non tes, rumus yang digunakan adalah Alpha-Cronbach, dibawah ini karena variasi sekornya lebih dari 2. Berikut adalah rumus Alpha-Cronbach :
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg3NbrHv-NLJN-owHN9tz3FxdvlM8ewT-LabOwG-oJeiTK8UZ-Vw_ZM8QtR5SRRCQIf4moWnKqglk2XpPQsVGbUkfzOv8bTyQb-Kc6EQU2HlSj_voemOND7JQR1FM4QYLL4H32TtTkZ82Y/s1600/Reliabilitas.bmp




1 komentar:

  1. Untuk menghitung uji validitas instrumen tes menggnakan persamaan (rumus) Point Biserial? Sedangkan menghitungvaliditas instrumen non tes menggunakan persamaan Korelasi Product Moment? (Saur Tampubolon/Bogor), 23 Maret 2017. HP. 08161669487

    BalasHapus