Senin, 16 Desember 2013

PENGEMBANGAN PROSES PEMBELAJARAN BAHASA DI KELAS RENDAH

A.  PENGEMBANGAN PROSES PEMBELAJARAN BAHASA DI KELAS RENDAH
1.      PENDEKATAN TEMATIK
Pendekatan adalah konsep dasar yang melingkupi metode dengan cakupan teoritis tertentu. Metode merupakan jabaran dari pendekatan. Satu pendekatan dapat dijabarkan ke dalam berbagai metode. Pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran bahasa di kelas rendah adalah pendekatan tematik. Pembelajaran tematik merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa. Keterpaduan dalam pembelajaran ini dapat dilihat dari aspek proses atau waktu, aspek kurikulum, dan aspek belajar mengajar. Pembelajaran tematik hanya diajarkan pada siswa sekolah dasar kelas rendah (1—3), karena pada umumnya mereka melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik), perkembangan fisiknya tidak pernah dipisahkan dengan perkembangan mental, sosial, dan emosional.
2.      METODE SAS ( Struktural Analitik Sintetik)
Metode adalah cara-cara mengajar yang telah disusun berdasarkan prinsip dan sistem tertentu (Basennang, 1989:45). Hakikat metode pengajaran bahasa berdasarkan pendapat Basennang sesungguhnya tidak lain adalah persoalan pemilihan bahan yang akan diajarkan, penentuan cara-cara penyajiannya, dan cara mengevaluasinya. Orientasi pada tujuan pengajaran yang ingin dicapai. Cara mengajar guru sangat berpengaruh kepada cara belajar siswa. Bila guru mengajar hanya dengan metode ceramah maka dapat diduga siswa belajar secara pasif dan hasilnya pun berupa pemahaman materi bersifat teoritis. Belajar melalui pengalaman semakin jauh dari kenyataan. Untuk mengatasi hal itu maka setiap guru, juga guru bahasa Indonesia, di SD harus mengenal, memahami, menghayati, dan dapat mempraktikkan berbagai metode pengajaran bahasa.
Metode pembelajaran bahasa yang cocok untuk kelas rendah antara lain metode SAS. Metode SAS ( struktural analitik sintetik) bersumber pada ilmu jiwa gestalt yang berpandangan bahwa pengamatan/penglihatan pertama setiap manusia adalah global atau bersifat menyeluruh. Dengan demikian segala sesuatu yang akan diajarkan kepada murid haruslah mulai ditunjukkan atau diperkenalkan struktur totalitasnya atau secara global. Setelah itu baru mencari atau menemukan bagianbagian dari struktur global tersebut, ini yang disebut tahap analisnya. Setelah mengenal bagian serta fungsinya orang dewasa atau siswa akan mengembalikan bagian-bagian itu menjadi struktur totalitas seperti pada awalnya, yang disebut tahap sintesa. Metode ini banyak digunakan dalam metode pembelajaran membaca permulaan, tetapi sesungguhnya dapat dipergunakan dalam setiap aspek pembelajaran bahasa, sepert: pembelajaran kosa kata, kalimat, wacana bahkan dalam apresiasi sastra. Selain itu metode ini banyak pula dipakai dalam pembelajaran mata pelajaran lain.
3.      TEKNIK
Berikut ini sejumlah teknik pengajaran kebahasaan. Setiap teknik akan diberi penjelasan dan contoh penerapannya dalam bentuk kegiatan guru dan siswa dalam kelas. Teknik pengajaran kebahasaan yang dimaksud, antara lain:
a.       Teknik Melengkapi Kalimat
Ada beberapa cara yang digunakan dalam melengkapi kalimat. Pertama menyempurnakan afiksasi pada kata yang belum sempurna bentuknya, misalnya awalan, sisipan, akhiran, atau awalan dan sisipan. Kedua mengalihkan kelas kata, misalnya dari kata benda menjadi kata sifat. Ketiga menjadikan kata dasar menjadi kata ulang. Keempat menggantikan kata kepunyaan dengan bentuk –ku, -mu, -nya.
b.      Teknik Menjawab Pertanyaan
Tanya jawab atau menjawab pertanyaan adalah salah satu cara untuk memancing siswa berekspresi. Ekspresi atau jawab siswa dalam kalimat sempurna sangat efektif dalam melatih siswa menyusun kalimat. Secara tidak sadar mereka diarahkan menyusun kalimat yang baik dan benar.

B.  PENGEMBANGAN PROSES PEMBELAJARAN KETERAMPILAN BAHASA DI KELAS RENDAH
1.      PENDEKATAN KONTEKSTUAL
Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning atau CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalamai, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil. Dalam konteks itu, siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka, dan begaimana mencapainya. Mereka sadar bahwa yang mereka pelajari berguna bagi hidupnya nanti. Dengan begitu mereka memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal untuk hidupnya nanti.
2.      METODE ALAMIAH (CUSTOMARY METHOD)
Metode ini banyak memiliki nama, yaitu metode murni, metode natural atau “customary method”. Metode ini memiliki prinsip bahwa mengajar bahasa baru (seperti bahasa kedua) harus sesuai dengan kebiasaan belajar berbahasa yang sesungguhnya sebagaimana yang dilalui oleh anak-anak ketika belajar bahasa ibunya. Proses alamiah inilah yang harus dijadikan landasan dalam setiap langkah yang harus ditempuh dalam pengajaran bahasa kedua, seperti bahasa Indonesia. Seperti Anda ketahui proses belajar bahasa anak-anak dimulai dengan mendengar, kemudian berbicara, kemudian membaca dan akhirnya menulis atau mengarang. Jadi pada awal pelajaran, gurulah yang banyak berbicara/bercerita dalam rangka memperkenalkan bunyi-bunyi, kosa kata dan struktur kalimat sederhana. Setelah mereka dapat menyimak dengan baik, kemudian anak-anak diajak berbicara dan selanjutnya mulai diperkenalkan dengan membaca dan menulis.
3.      TEKNIK
a.    Teknik Pembelajaran Keterampilan Menyimak/ Mendengarkan
1)   Teknik Simak – Ulang Ucap
Teknik simak – ulang ucap biasanya digunakan dalam melatih siswa melafalkan dengan tepat unit-unit bahasa mulai dari unit terkecil sampai unit terbesar misalnya fonem, kata, kelompok kata, kalimat, dan paragraf atau wacana pendek. Model ucapan yang akan diperdengarkan dan tiru oleh siswa harus dipersiapkan secara cermat oleh guru.
2)   Teknik Simak – Kerjakan
Teknik simak-kerjakan dalam pengajaran menyimak digunakan dalam memperkenalkan dan membiasakan siswa akan suruhan atau perintah. Biasanya suruhan atau perintah itu tersirat dalam kata kerja dasar, kata kerja berakhiran –kan, -i, atau –lah. Model suruhan atau perintah dipersiapkan oleh guru lalu disampaikan secara lisan kepada siswa.
3)   Teknik Simak – Tulis
Teknik simak – tulis dikenal juga dengan dikte. Latihan dikte menuntut keseriusan siswa seperti memusatkan perhatian, mengenali fonem, tanda-tanda baca, penulisan huruf besar, membedakan ujaran langsung dan tak langsung, memperhatikan permulaan atau akhir paragraf dsb.

b.    Teknik Pembelajaran Keterampilan Berbicara
1)      Teknik Ulang-Ucap
Teknik ulang-ucap sangat baik digunakan dalam melatih siswa mengucapkan atau melafalkan bunyi bahasa kata, kelompok kata, kalimat, ungkapan, peribahasa, semboyan, kata-kata mutiara, paragraf, dan puisi yang pendek. Pada kelas-kelas rendah teknik ini biasa digunakan dalam melatih siswa mengucapkan fonem kata-kata, dan kalimat-kalimat yang pendek.
2)      Teknik Lihat - Ucap
Teknik lihat-ucap digunakan dalam merangsang siswa mengekspresikan hasil pengamatannya. Yang diamati dapat berbagai hal atau benda, gambar benda, atau duplikat benda. Pada kelas-kelas rendah benda yang diperlihatkan untuk diamati sebaiknya benda-benda yang dekat dengan kehidupan siswa.
3)      Teknik Deskripsi
Deskripsi berarti menggambarkan, melukiskan, atau memerikan sesuatu secara verbal. Teknik deskripsi digunakan untuk melatih siswa berani berbicara atau mengekspresikan hasil pengamatannya terhadap sesuatu. Melalui deskripsi ini, pembicara menggambarkan sesuatu secara verbal kepada para pendengarnya.
c.    Teknik Pembelajaran Keterampilan Membaca
Pembelajaran keterampilan membaca pada kelas rendah dapat dilakukan dengan teknik lihat dan baca, yaitu guru mempersiapkan dengan cermat bahan bacaan yang akan diperlihatkan kepada siswa. Bahan bacaan tersebut dapat berupa fonem, kata, kalimat, ungkapan, semboyan, atau puisi-puisi pendek. Khusus dalam membaca permulaan bahan bacaan disertai bendanya atau gambar bendanya.
d.   Teknik Pembelajaran Keterampilan Menulis
1)      Teknik Menggambar Garis
Menggambar garis digunakan dalam pengajaran pra-menulis. Tujuannya melatih otot-otot tangan agar terbiasa melakukan gerak dalam menulis. Garis-garis yang digambar adalah garis lurus, melengkung, membulat, dsb.
2)      Teknik Menyalin Huruf
Mengarahkan siswa agar dapat menyalin huruf harus berencana, terarah, selangkah demi selangkah.

C.  PENGEMBANGAN PROSES PEMBELAJARAN SASTRA INDONESIA DI KELAS RENDAH
1.      PENDEKATAN KOMUNIKATIF
Pendekatan komunikatif didasarkan pada pandangan bahwa bahasa adalah sarana berkomunikasi. Karena itu tujuan utama pengajaran bahasa adalah meningkatkan keterampilan berbahasa siswa, bukan kepada pengetahuan tentang bahasa, pengetahuan bahasa diajarkan untuk menunjang pencapaian keterampilan bahasa. Pendekatan komunikatif menekankan pada bahasa sebagai alat berkomunikasi. Tujuan akhir yang ingin dicapai ialah agar siswa terampil menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi. Komunikasi tidak selalu bersifat formal atau resmi tetapi juga mungkin bersifat tidak formal. Karena itu bahan pengajaran tidak hanya ditekankan kepada ragam baku tetapi juga ragam lainnya. Bahan pengajaran bahasa harus sesuatu yang bermakna bagi siswa. Hal ini diwujudkan antara lain dalam pemilihan bahan pengajaran yang berkaitan dengan ragam-ragam komunikasi seperti tersebut di atas.

2.      METODE
Beberapa metode untuk pembelajaran sastra anak di sekolah dasar yang sekiranya cocok diterapkan dikelas rendah antara lain:
a.       Metode berkisah
Diberikan oleh guru di depan kelas dengan membawakan sebuah kisah. Dongeng dan fabel dapat dijadikan bahan ajar dalam pembelajaran dengan metode berkisah. Metode berkisah tidak semata-mata disampaikan monoton dengan narasi, tetapi perluselingan dialog dan humor dengan suara berubah-ubah
b.      Metode pembacaan
Pembacaan yang menarik dicontohkan oleh guru di depan kelas dapat mengundang perhatian siswa untuk ikut terlibat dan berempati dalam suasana karya sastra yang dibacanya. Siswa kelas 1-3 sekolah dasar dapat dengan cepat menangkap irama puisi atau cerita pendek yang dibacakan oleh gurunya tanpa menghiraukan maknanya.
c.       Metode tanya-jawab
Pertanyaan diberikan guru kepada siswa, setelah siswa itu mendengarkan cerita gutu atau menonton pertunjukan pentas karya sastra. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan untuk ukuran kelas rendah biasanya lebih sederhana seperti siapa tokoh dalah cerita tersebut ? dimana kisah tersebut terjadi ? dsb.
d.      Metode penugasan
Guru dapat memberi tugas membaca, mendengar, ataupun menonton pertunjukan karya sastra baik di dalam kelas ataupun sebagai pekerjaan rumah.

3.      TEKNIK
Berikut ini disajikan sejumlah teknik pengajaran sastra. Setiap teknik diberi penjelasan secara singkat. Kemudian disertakan juga contoh penggunaannya dalam bentuk kegiatan belajar mengajar di kelas. Teknik yang dimaksud antara lain:
a.       Teknik Memperkenalkan
Teknik memperkenalkan biasa digunakan pada siswa kelas-kelas rendah. Melalui teknik ini siswa diarahkan kepada contoh-contoh karya sastra seperti puisi, prosa, dan drama sederhana. Pengenalan hasil sastra merupakan jembatan ke arah mencintai hasil sastra. Proses pengenalan tersebut dapat dilakukan dengan berbagai saluran. Misalnya pendengaran seperti menyimak pembacaan puisi-puisi pendek, kutipan prosa atau drama. Pengenalan itu dapat pula melalui menyimak dan mengucapkan kembali, menyimak dan menuliskan kembali, membaca dan menyalin atau menonton dramatisasi, pementasan, dan deklamasi. Jadi pengenalan hasil sastra dapat dilakukan melalui telinga mata, atau saraf (gerak tangan).
1)      Simak
Bahan yang disampaikan harus dipilih dengan sebaik-baiknya. Taraf kesukaran, bahasa, struktur harus berimbang dengan kemampuan siswa. Bahasa tersebut akan lebih baik lagi apabila berada dalam pusat minat siswa.
2)      Simak – Ulang Ucap
Pelaksanaannya adalah seperti berikut. Bahan itu disampaikan secara lisan kemudian siswa mengulangi ucapan guru. Atau bahan itu direkam dalam pita suara dan diperdengarkan kepada siswa. Kemudian siswa mengulangi ucapan seperti suara rekaman.
3)      Simak-Tulis
Pada teknik simak-tulis kegiatan diikuti oleh menuliskan apa yang telah disimak. Karena itu bahan yang telah dipersiapkan dalam teknik simak - ulang ucap dapat digunakan sepenuhnya dalam pelaksanaan simak-tulis.

b.      Teknik Menjawab Pertanyaan

Menjawab pertanyaan mengenai isi bacaan sering sekali dipraktekkan dalam pengajaran bahasa. Hal ini pun dapat dilakukan dalam pengajaran sastra. Salah satu cara untuk mengukur pemahaman siswa terhadap suatu karya sastra ialah melalui jawaban siswa terhadap pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan isi karya sastra tersebut.

Senin, 17 Juni 2013

MASTERY

 




CHAPTER NINE
MASTERY
Sementara menempatkan pikiran saya bersama-sama pada buku ini, aku di atas kapal laut berlayar sampai bagian pedalaman Alaska. Pelayaran pertama saya adalah pada tahun 1976, terakhir saya pada tahun 1993. Meskipun saya memiliki waktu yang menyenangkan pada pelayaran yang lebih baru, perubahan dalam nada pekerja umum di kapal itu terlihat, begitu banyak sehingga saya berbicara dengan "orang yang bertanggung jawab", seseorang yang telah menghabiskan setidaknya dua puluh lima tahun hidupnya pada kapal dalam berbagai capaticities. Saya memintanya untuk menjelaskan perbedaan. Dalam persepsinya, orang-orang muda di bawah pengawasannya tidak pernah melakukan pekerjaan pada tingkat mastery yang tinggi dan bahwa jika mereka dipaksa kepatuhan mereka akan melakukannya (misalnya, memiliki spons dengan mereka karena mereka membersihkan nampan makan siang di dek luar), tapi dalam beberapa hari perilaku lama mereka kembali. Dia kemudian membuat pernyataan sangat jitu, "Ibuku tidak akan pernah mengijinkan saya untuk melakukan pekerjaan yang tidak lengkap."
Saya teringat pernyataan serupa ayahku tentang kehidupan di San Francisco. Meskipun keluarga memiliki sedikit uang dan teras depan terbuat sangat sederhana, kayu yang tidak dicat, ibunya menuntut untuk membersihkan rumah mingguan termasuk menggosok tangga kayu setiap Sabtu pagi dengan sabun dan air. Sebaliknya, ketika di sebuah pusat perbelanjaan Sabtu itu, saya terjebak dengan remaja-remaja yang sudah "nongkrong" hari itu. Mungkin mastery harus dimulai di rumah, dirancang di dunia nyata, bagian dari budaya keluarga ("cara kita melakukan hal-hal di sini"), dirancang sejak usia dini oleh orang dewasa yang kita hormati. Mungkin kita telah terlalu mudah dan terlalu sepenuhnya menerima kecerobohan di banyak bidang kehidupan kita karena memang begitulah adanya: tukang ledeng yang meninggalkan sedikit bocor di belakang,  mekanik yang mengatur gigi timing dengan menyelaraskan dua menetas menandai seperti yang dijelaskan di pabrik spesifikasi dan mengabaikan fakta bahwa mobil Anda kemudian memiliki kurang pick-up dari sebelumnya, tukang kebun yang pada jam kerja tetapi meninggalkan halaman sehingga tampak seperti tidak pernah tersentuh, pengacara yang memberikan kontrak piring boiler dengan sedikit data spesifik untuk situasi Anda dan biaya keberuntungan untuk itu. Dan sebagainya.
Contoh lain pun terfikirkan. Selama beberapa bulan aku menghabiskan di Cekoslowakia bekerja dengan pendidik di berbagai kota, aku kagum oleh bangunan megah yang telah dibangun 300 sampai 600 tahun yang lalu. Di sana mereka berdiri-tinggi dan megah. Di samping prestasi arsitektur dan pengerjaan yang luar biasa ini terdapat bangunan yang dibangun selama rezim komunis, tanpa keahlian, sudah hancur, menciptakan polusi, dan dalam beberapa kasus, sangat tidak aman untuk masuk Apartment, yang memerlukan 10 hingga 12 tahun dalam pengerjaan,  belum selesai dikerjakan, tembok belum dicat  dicat, dan memiliki lampu telanjang di lorong.
kemanapun kita kembali, contoh-contoh non-mastery yang menjadi norma yang diterima pun menghantui kita. Aku percaya pelatihan formal mengenai non-mastery diterima dalam lingkungan sekolah dan hal ini mulai terlalu dini. Di sekolah, rendahnya  ekspektasi siswa oleh guru memungkinkan siswa memiliki pilihan untuk paham atau tidak paham, kami hanya memberinya nilai yang setara dengan A, B, C, D, atau F, dan menyalahkan kurangnya pembelajaran kepada siswa --- kurangnya persiapan, pengalaman yang terbatas, sikap rewel, atau lingkungan rumah yang tidak baik. Akibatnya, sekolah Amerika meluluskan hampir satu juta siswa buta huruf per tahun. Tapi mereka lulus! Mereka menerima secarik kertas yang menunjukkan tingkat pencapaian yang memuaskan bagi masyarakat dan pembayar pajak. Mereka kemudian akan pergi dan mendapatkan pekerjaan (mungkin), tidak mengerti mengapa boss mereka frustasi dengan kinerja mereka, dan bertanya-tanya mengapa gaji dan posisi mereka tidak sepadan dengan aspirasi mereka-semua karena program mental yang telah mereka peroleh dengan menggabungkan standar marjinal karena marjinal cukup baik di sekolah. Sangat cukup untuk mastery!
Gardner dalam bukunya, Unschooled Mind, menjelaskan dengan cara lain:
"Menyatakan diri melawan institusi tiga R di sekolah adalah seperti melawan ibu pertiwi atau bendera. Tanpa pertanyaan, siswa harus menjadi melek dan harus bersenang-senang dalam keaksaraan mereka. Namun kekosongan penting dari tujuan ini didramatisasi oleh fakta bahwa anak-anak muda di Amerika Serikat menjadi melek dalam arti harfiah, yaitu, mereka menguasai aturan membaca dan menulis, bahkan saat mereka belajar tabel penjumlahan dan perkalian. Apa yang hilang bukan keterampilan menghitung, tapi dua aspek lain: kemampuan untuk memahami dan keinginan untuk membaca kesemuanya. Banyak cerita yang sama bisa dikatakan untuk literatur yang tersisa, itu bukan mekanisme penulisan maupun algoritma untuk pengurangan yang tidak ada, melainkan pengetahuan tentang kapan untuk memanggil kemampuan ini dan kecenderungan untuk melakukannya secara produktif dalam kehidupan sehari-hari "
Bagaimana kita menetapkan ekspektasi untuk diri kita sendiri dan siswa? Di kelas ITI dan sekolah, harapan ditetapkan dalam tiga cara:
·       Membuat kurikulum yang berarti untuk waktu dan ketertarikan anak-anak, dan memungkinkan waktu yang cukup untuk berlatih mengaplikasikannya di dunia nyata.
·       Menerapkan pedoman Seumur Hidup, khususnya kemampuan terbaik diri sendiri dan keterampilan hidup
·       Menghilangkan penilaian A sampai F dan bell curve dalam mendukung penilaian "3 C".
KURIKULUM YANG BERMAKNA DAN APLIKASI
Hari ini, dengan terdapatnya penelitian otak, kami mengajukan tiga pertanyaan yang sangat spesifik untuk guru:
  • Mental program apa yang akan anda bangun?
  • Apakah kurikulum Anda dengan jelas memberikan keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk membangun program tersebut?
  • Apakah Anda menyediakan waktu yang memadai dan aplikasi untuk dunia nyata?
Dari perspektif otak, belajar hal-hal yang tidak segera bisa digunakan adalah tugas yang sangat berat. Jika tidak bisa digunakan, apa gunanya? Ketidakmampuan untuk menjawab pertanyaan ini mempengaruhi dimana dan bagaimana --- dan jika ---- otak menyimpannya. Setiap diskusi pembelajaran dan penerapan pembelajaran harus membuat perbedaan antara menghafal dan pembelajaran yang dapat diakses untuk membantu anak-anak untuk memahami dan bertindak atas dunia mereka.

MELAKSANAKAN PEDOMAN SEUMUR HIDUP DAN KETERAMPILAN HIDUP
Harapan yang tinggi disahkan oleh imbalan eksternal bukan merupakan dasar yang kuat untuk menciptakan pembelajaran seumur hidup: Harapan yang tinggi adalah cara hidup, filosofi untuk menciptakan dunia pribadi seseorang. Kami telah menemukan bahwa Pedoman Seumur Hidup, dan terutama kemampuan terbaik diri sendiri dan keterampilan hidup, adalah alat yang kuat dalam kelas untuk membantu siswa menginternalisasi harapan yang tinggi, dan untuk membantu mereka memulai beroperasi dari internal  locus of control internal dan pemberdayaan.
Unsur lain yang sangat berharga bagi siswa adalah memberikan dosis besar pandangan siswa ke dunia nyata, khususnya dunia kerja, dan keterampilan tingkat pribadi, sosial, dan profesional yang dibutuhkan untuk sukses di arena tersebut. Tingkat di atas Siswa SD harus diberi mentor yang akan membiarkan siswa membayangkan mereka untuk satu hari --- hari yang nyata dari awal hingga akhir shift, baik itu balai kota, kantor polisi, stasiun pemadam kebakaran. Dan tidak hanya sekali tapi setidaknya tiga waktu yang berbeda sepanjang tahun.

MENGHILANGKAN GRADING DAN BELL CURVE; MEMULAI PENILAIAN MENGGUNAKAN "3C"
Sistem pendidikan dan publik Amerika telah datang ke harapkan bell curve dengan penilaian A sampai F --- itu adalah proses seperti pai apel dan Chevy-on-the-levy sebagaimana tradisi yang lain. Ia mengharapkan dan mengasumsikan bahwa beberapa siswa akan memahami, beberapa akan mengerti sedikit, dan beberapa tidak sama sekali. Sejauh ini cukup baik. Tetapi persentase siswa diharapkan agar sesuai dengan kategori tersebut  yaitu tidak diinginkan atau tidak dipertahankan- 10 persen A, 80 persen C, dan 10 persen F. Secara simpel dapat diterjemahkan bahwa  ini berarti bahwa 90 persen dari siswa gagal untuk menguasai apa yang diharapkan dari mereka oleh pembelajaran mereka karena tidak lengkap atau hasil program yang tidak akurat setipis udara --tidak ada  yang dipertahankan (kecuali kemungkinan bias negatif tentang mempelajari topik itu lagi). Akibatnya, setelah tiga ribu lima ratus jam sekolah dengan biaya sekitar $ 45,000 per siswa, Amerika Serikat meluluskan 1,1 juta siswa buta huruf, sekitar 30 persen dari siswa putus sekolah sebelum hari kelulusan, dan yang lainnya lulus yang berarti sedikit banyak merupakan pengusaha dengan teknologi tinggi saat ini.
Atau, ambil ujung spectrum yang lain. The University of California, Berkeley, mengakui hanya dua persen teratas siswa terbaik dari seluruh negeri ... kemudian meneruskan untuk menempatkan mereka dalam ratusan kelas dan merangking mereka pada bell curve. Menyedihkan? Tentu saja. Itu membuat satu pertanyaan mengenai tujuan dan maksud sekolah umum: itu untuk menyaring, atau untuk mendidik kompetensi?
Bell curve adalah tradisi yang berbahaya dalam semua aplikasi: tingkat kelas, tingkat kelembagaan, tingkat tempat kerja. Jika apa yang kita nilai adalah belajar dan kompetensi di dunia nyata, Bell curve adalah omong kosong, kontraproduktif, mahal, dan merusak mahasiswa dan masyarakat.
Saya percaya alasan kuat untuk pendidikan umum adalah untuk menghasilkan siswa yang merupakan warga negara melek dan kompeten. Melek huruf, sehingga mereka dapat mempelajari dan memahami isu-isu yang muncul di surat suara, kompeten secara pribadi, sosial, dan ekonomi sehingga mereka dapat memberikan kontribusi kepada masyarakat dan membantu melestarikan cara demokratis hidup kita.
Dengan demikian, tujuan dari model ITI - dan dorongan bawaan dari pikiran manusia - adalah mastery. mastery, bukan dalam arti "ketuntasan belajar" dengan 834 keterampilan diskrit membaca, melainkan mastery  seperti dalam kompetensi: ". Kapasitas, kecukupan, cukup untuk hidup dengan kenyamanan" Artinya, peserta didik memahami keterampilan atau konsep, tahu bagaimana menerapkannya di dunia nyata yang mirip (tapi bervariasi) keadaan, dan telah dimasukkan ke dalam program mental. Penguasaan atau kompetensi tersebut adalah jantung dari konsep diri yang positif, rasa pemberdayaan dan kemampuan untuk mengarahkan kehidupan seseorang, dan hal ini konsisten dengan pencarian bawaan otak untuk memaknai.
Dari sudut pandang siswa, grading menyebabkan stres, mengalihkan pelajar dari  penghargaan intrinsik menjadi penghargaan eksternal, menempatkan siswa bersaing dengan siswa lainnya bukannya menilai semua siswa terhadap standar kompetensi, dan menciptakan harga diri yang rendah atau jaminan yang salah. Dari sudut pandang seorang guru, tuntutan sistem mendistorsi apa yang berharga untuk diketahui menjadi apa yang mudah untuk dinilai dalam rangka untuk memastikan "keselarasan" kurikulum dengan alat penilaian.
Belum ada yang lain, alasan yang lebih mendasar mengapa evaluasi tradisional dan grading merupakan “brain-antagonistic”hal ini secara simpel hanya mengabaikan bagaimana pembelajaran berlangsung. Sebagaimana Hart menyatakan: "Belajar adalah akuisisi program yang berguna." Informasi yang tidak tertanam dalam program mental adalah informasi yang tidak dapat diterima. Penelitian Otak membuatnya cukup jelas bahwa, jika makna belum tercapai, tidak ada bagi otak untuk mengingat kecuali kebingungan dan, sangat mungkin, membenci topik atau bahkan area subyek seluruhnya ("Aku benci ilmu pengetahuan. Aku tidak pernah pandai matematika. Ejaan selalu sulit. "-reaksi umum dari orang dewasa dan siswa sama). Penelitian Otak tidak membuktikan pengabdian kami kepada kurikulum pengertian spiral. Otak tidak bisa memproses potongan-potongan yang tidak berarti pada saat mereka temui.
Dari sudut pandang seorang guru, mastery / kompetensi dibangun kedalam hari-hari siswa baik melalui perencanaan kurikulum dan strategi pembelajaran.
Sebelum kita melanjutkan, periksa dengan pengalaman Anda sendiri. Apakah Anda ingat hari kuliah Anda? Duduk sepanjang jam malam belajar untuk ujian esai untuk kuliah kursus peradaban dunia Anda. Data yang menggunung, sedikit atau tidak ada aplikasi dari informasi tersebut, tidak ada "program" yang diciptakan. Pada saat esai buku biru dikembalikan, ada informasi dalam buku ujian esai yang  belum pernah Anda dengar sebelumnya! Bahkan tulisan tangan tampak aneh! Tentunya, ini harus menjadi buku ujian orang lain! Apa membuang-buang waktu, uang, dan usaha.

I.                   Memulai Penilaian
Bahkan dalam bentuk penilaian yang lebih aktif, melakukan sesuatu sekali atau dua kali bukanlah apa yang program mental buat. Jadi, bahkan A dapat berarti sedikit dalam hal memori jangka panjang. Dan nilai kurang dari A biasanya berarti bahwa pelajar, pada saat itu, masih memendam ketidakpastian atau kesalahpahaman. Kesementaraan tersebut merupakan indikasi yang jelas bahwa "Program mental"yang akurat  tidak dimasukkan ke dalam tempatnya. Dengan demikian, D atau F, bahkan B atau C, berarti sedikit atau tidak ada yang akan diingat enam minggu kemudian.
Dalam kehidupan nyata di luar kelas, perbedaan antara penguasaan dan bell curve cukup mencolok. Di dunia, C atau bahkan B tidak cukup. Siapa yang ingin terbang dalam sebuah pesawat udara yang telah dilayani oleh seorang mekanik yang baru saja lulus tes keterampilan dengan C-? akankah kamu? Tentu saja tidak! Bagaimana tentang terkena kabel listrik ditinggalkan oleh teknisi listrik Anda? Apakah itu baik-baik saja dengan Anda? Tentu saja tidak!
Dalam evaluasi ”pengonsepan-kembali” dan peringkatan terhadap gagasan untuk menilai kompetensi, ada dua harapan tren penerapan penelitian otak saat ini (topik utama buku ini) dan penilaian otentik, sering disebut sebagai penilaian berbasis kinerja. Keduanya memerlukan dibuatnya perubahan besar dalam penilaian belajar siswa, kurikulum dan struktur, dan sikap-guru, siswa, dan sistem.
Dua kunci ide dari gerakan asesmen otentik yang sangat kuat adalah:
  • menggunakan pengaturan kehidupan nyata dan tingkat ekspektasi 1
  • menilai apa yang layak dinilai daripada menilai apa yang mudah untuk dinilai
Dalam sekolah saya sendiri, kelas yang paling mengajarkan saya tentang mastery adalah pelajaran sosial kelas delapan oleh Mr. Womack. Itu adalah tahun kami mempelajari pemerintah kota / negara. Pada awal tahun lima puluhan, San Jose, California, sedang dalam perjalanan untuk menjadi area metropolitan besar. Orang-orang bergerak lebih cepat daripada kota itu bisa bersaing dengan layanan lingkungan dasar. Seiring lingkungan dan sekolah membengkak, ini menjadikan diperlukan lebih banyak perpustakaan. (Televisi masih baru). Mengambil kebutuhan yang menjadi pertimbangan, Mr Womack mengajarkan kita bagaimana untuk membuat orang menyadari masalah dan mengambil langkah yang diperlukan untuk memecahkan masalah. Hari ini, ada Taman Perpustakaan Cabang Rose karena kemampuan seorang guru kelas untuk membuat belajar bermakna dan memberikan siswanya keterampilan seumur hidup yang mengakses sistem demokrasi kita.

II.                Mastery (Penguasaan/ Kompetensi)
Dalam pendidikan saya sendiri, saya terus-menerus diingatkan tentang bagaimana demokrasi bekerja. Orang tua saya selalu aktif di masyarakat, membantu untuk membuat segalanya lebih baik. Saya masih ingat betul jam yang tak terhitung melakukan pengecatan, sambungan panggilan telepon, pengorganisasian, petisi, dan sebagainya. Tanpa keraguan lagi kegiatan tersebut adalah sarana yang sangat baik untuk menerapkan semua keterampilan dasar (membaca, menulis, berhitung), serta praktek-praktek demokrasi. Dengan demikian, ITI selalu memiliki komponen aksi politik. Inilah aspek model yang saya perjuangkan. Namun, saya tidak pernah menyadari betapa sedikit guru yang memiliki pengalaman untuk mengetahui bagaimana menggunakan metode ini sebagai sarana menerapkan apa yang mereka pelajari. Sedikit guru yang mampu untuk merasa nyaman dengan langkah-langkah tertentu untuk menghasilkan tindakan. Dilema ini dipecahkan ketika Barbara Lewis menulis sebuah buku berjudul, The Kid’s Guide to Social Action. Subtitle mengatakan itu semua: Bagaimana Memecahkan Masalah Sosial YANG ANDA PILIH-dan merubah fikiran Kreatif menjadi Aksi Positif. Hal ini sangat komprehensif bahwa mereka menerima Medali Emas “Susan Kovalik & Associates” pada tahun 1991 untuk buku yang paling membantu siswa dalam kelas ITI. Ini adalah panduan langkah-demi-langkah yang menunjukkan siswa bagaimana untuk membuat perbedaan konstruktif. Ini adalah tentang penerapan pengetahuan, yaitu membahas semua tentang mastery.
III.             Penilaian 3C
    Menetapkan Standar untuk Mastery: penilaian "3C"
Tiga kriteria yang menentukan penguasaan: complete, correct, dan comprehensive.
Complete. Ini berarti bahwa pekerjaan yang disebut oleh penyelidikan memenuhi semua persyaratan atau spesifikasi penyelidikan, termasuk pengurutan waktu. Seperti ketika pada pekerjaan, tugas selesai dari awal sampai akhir, dan dilakukan dalam jangka waktu yang ditentukan. (Untuk penjelasan dari pertanyaan, lihat Bab 13)
Correct. Ini berarti bahwa pekerjaan yang disebut oleh penyelidikan berisi informasi akurat, informasi yang digunakan adalah informasi terbaru yang tersedia, dan lebih dari satu sumber yang dikonsultasi. Pekerjaan itu dilakukan dengan spesifikasi pekerjaan yang diperlukan (seperti tukang ledeng atau pekerjaan menangani listrik sesuai dengan Kode Universal untuk pipa atau pekerjaan kelistrikan dan desain proyek)
Comprehensive. Ini berarti bahwa pekerjaan mencerminkan ketelitian pemikiran dan investigasi, bukan hanya sebuah respon satu baris, pendapat ditempa dari satu sudut pandang. Yang penting dan bernilai-sementara isu atau masalah diteliti secara menyeluruh, dilihat dari sudut pandang yang berbeda (bukan hanya pendapat diri sendiri atau "apa yang dikatakan di ensiklopedia"), dan kesimpulan didukung dengan data yang relevan. Pada pekerjaan, kelengkapan respon dapat sesederhana (tetapi sangat dihargai dan berharga) sekretaris yang meneliti harga barang peralatan kantor dari beberapa toko sebelum menempatkan pesanan, atau dokter yang menganalisis masalah dari semua sudut pandang, bukan hanya "drug fix".
Meskipun siswa dapat menolak suatu kriteria dan mengeluh tentang "mengubah aturan permainan", gagasan kelengkapan dan kebenaran tidak akan baru bagi mereka., Jika mereka telah memainkan olahraga tim mereka tahu pentingnya dan konsekuensi dari melakukan hal tersebut dengan benar pertama kalinya. Bagaimanapun juga, comprehensive adalah konsep bahwa guru harus mengajar karena itu adalah antitesis dari "belajar" dilakukan di luar buku teks. Mungkin memerlukan beberapa minggu untuk menggeser siswa dari sudut pandang dan kebiasaan petugas dengan pengertian seperti "seatwork sebagai pembelajaran, kuantitas adalah kualitas, menumpuk poin sama dengan belajar.

MELAKSANAKAN PENILAIAN MASTERY / KOMPETENSI
Menggunakan Tools di Tangan
Sama seperti belajar harus sesuai dengan otak untuk siswa, menilai pelajaran siswa juga harus sesuai dengan otak untuk guru. Dalam sebuah kelas ITI, tidak ada kebutuhan untuk menemukan atau membeli tes instrumen penilaian melampaui apa yang telah dibuat guru dalam proses pembelajaran mendalangi.
  • Alasan untuk “tema selama setahun” juga alasan untuk belajar informasi (lihat Bab 11)
  • Poin kunci mengidentifikasi persis konsep dan keterampilan apa yang harus dipelajari (lihat Bab 12). Poin kunci adalah kurikulum dan mereka memberikan fokus untuk penilaian. Jika mereka telah dipilih dan dikembangkan dengan baik, yaitu, jika mereka benar-benar apa yang penting untuk dipelajari dan konseptual daripada factoid di alam, maka mereka jelas apa yang layak dinilai. Dengan demikian, mereka adalah apa yang harus dinilai dan apa yang siswa (dan guru) harus pertanggungjawabkan.
  • Penelitian memberikan kesempatan untuk secara aktif mengalami bagaimana menerapkan konsep atau keterampilan di dunia nyata dan untuk mengembangkan sebuah program untuk digunakan di masa depan (lihat bab 13). Penelitian adalah mesin kurikulum - mereka memberikan daya (dari perspektif guru), dan pizzazz (dari perspektif siswa). Dan, dengan penambahan penilaian dengan "3 C", mereka adalah alat penilaian siap pakai berbasis kinerja.
Sebuah catatan tentang peringatan: ketidak hati-hatian meciptakan pertanyaan, pertanyaan yang hanya mencerminkan kecerdasan linguistik atau logis / matematis, pertanyaan yang merepotkan atau tidak memiliki aplikasi di dunia nyata (atau karena alasan lain yang hanya tidak otak-kompatibel), adalah tidak berguna untuk alat penilaian.
Jika alat-alat di atas tetap di tempatnya, penilaian untuk mastery / kompetensi pada berbagai keterampilan dan konsep adalah tugas yang luar biasa mudah karena bagian yang sulit dari penilaian otentik telah dicapai, yaitu, identifikasi apa yang penting untuk diukur dan menemukan kehidupan nyata, non-kertas dan pensil untuk mengukur mastery.
Langkah-langkah dalam Merancang Penilaian untuk Mastery / Kompetensi
Langkah 1. : Pilih pertanyaan atau pertanyaan-pertanyaan yang Anda merasa akan memungkinkan ekspresi yang paling realistis dari keterampilan atau konsep yang akan dinilai. Pastikan bahwa pilihan Anda (s) akan memungkinkan siswa memiliki kesempatan untuk menghitung menggunakan kapasitas intelijen terkuat mereka.
Langkah 2. : Menganalisis pertanyaan Anda untuk melihat apakah itu, seperti yang tertulis, akan memungkinkan Anda untuk mengatakan ya atau tidak, mastery atau tidak, setelah selesai. Ini mungkin berguna di sini untuk mengingat struktur dasar pengukuran yang sukses. Sederhananya, prosedur penilaian harus menjawab pertanyaan dasar: Siapa yang akan melakukan apa, seberapa baik, yang diukur dengan apa, kapan.
      • Siapa - semua siswa (bukan hanya siswa yang “bagus”)
      • Akan melakukan / memahami poin kunci
      • Bagaimana- dengan melakukan penyelidikan
      • Seberapa baik-sehingga konsep tersebut dapat diterapkan dan digeneralisasi ke dunia nyata
      • Ketika-pada akhir semester (bukan oleh tanggal sewenang-wenang seperti Jumat, hari kuis)
Langkah 3. : Tentukan apakah kinerja pada penyelidikan dapat bersikap kooperatif atau individu. Sebelum Anda membuat keputusan itu, ingatkan diri Anda untuk menantang gagasan lama tentang kerjasama merupakan sebuah kecurangan. Jika pekerjaan dilakukan secara substansial di dalam kelas, Anda akan memiliki kesempatan untuk mengamati kelompok dan masing-masing individu dalam kegiatan.
Langkah 4. : Setelah menerapkan "3C" dan menentukan bahwa semua pekerjaan yang dilakukan selesai, benar, dan komprehensif, Anda harus membuat keputusan tentang apakah ya atau tidak siswa telah mengembangkan program mental menggunakan konsep / keterampilan di masa depan. Dengan kata lain, apakah ini kejadian sekali pakai dari memori jangka pendek atau apakah anak benar-benar mengembangkan program yang memungkinkan dia untuk menggunakan konsep atau keterampilan di bawah kondisi berikut di masa depan:
      • kemampuan untuk memecahkan masalah yang nyata dengan menggunakan keterampilan dan konsep
      • kemampuan untuk menampilkan, menjelaskan, atau mengajarkan ide atau keterampilan kepada orang lain yang memiliki kebutuhan nyata untuk mengetahui
      • kemampuan untuk menggunakan bahasa subjek dalam situasi yang kompleks dan interaksi sosial
      • kemampuan untuk melakukan yang tepat dalam situasi tak terduga
Kemampuan tersebut untuk menggunakan apa yang dipelajari adalah perbedaan mendasar antara belajar yang nyata dan penilaian tradisional untuk nilai “huruf” dan bell curve. Saya juga akan merekomendasikan bahwa Anda melihat dengan beberapa kecurigaan pada rubrik yang dikembangkan untuk menilai portofolio dan sebagainya. Kebanyakan hanya lebih eksplisit, deskripsi rinci dari gradasi sepanjang bell curve. Sekali lagi, intinya di sini adalah bahwa kelas ITI fokus kepada mengejar mastery / kompetensi yang diterapkan pada kehidupan di dunia nyata, bukan hanya di dalam kelas. Apapun yang kurang dari persiapan untuk hidup adalah sia-sia baik bagi siswa dan waktu seorang guru dan usaha.





PEDOMAN
PELAKSANAAN PENILAIAN KOMPETENSI
·                menekankan “pribadi yang terbaik” daripada "nilai", pastikan bahwa tolok ukur anda untuk “pribadi yang terbaik” bukan standar mutlak, namun sesuatu yang sesuai untuk setiap siswa. Ingat, Anda sedang mencoba untuk membangun sikap dan keterampilan untuk belajar seumur hidup, bukannya menyortir siswa menjadi tinggi, menengah, dan rendah
·                jika "nilai" diperlukan dari Anda oleh sistem, lembaga "P ass / Kredit Tidak" pendekatan berdasarkan berbasis tindakan, performa kehidupan yang benar
·                jelaskan secara menyeluruh ke administrator Anda apa yang Anda rencanakan untuk melakukan penelitian otak di balik itu, juga jelaskan bagaimana Anda akan mengkomunikasikan pendekatan Anda kepada orang tua
·                jelaskan secara menyeluruh ke orangtua apa yang Anda rencanakan akan dilakukan sebelum Anda mulai. Beri mereka banyak contoh dari dunia nyata dengan cara penjelasan, juga memberikan contoh penilaian yang dapat mereka gunakan di rumah untuk memberikan umpan balik kepada anak mereka menggunakan standar penilaian otentik

·                Melawan mitos penilaian; tahu bahwa semakin nyata penerapan pengetahuan dan keterampilan, semakin mudah siswa dapat menilai sendiri jika mereka mengerti atau tidak dan dengan demikian menilai kemajuan mereka sendiri ke arah mastery.